OPINI

OPINI

APA ITU GERAKAN LITERASI SEKOLAH?

Membaca dan menulis bagi pelajar masa kini adalah sesuatu yang tidak biasa, mereka lebih memilih menonton sosial media daripada membaca dan menulis. Terlebih lagi, angka literasi Indonesia menurut survey PISA memang dalam angka yang bisa dibilang mengkhawatirkan. Dengan peringkat 64 dari 65 Negara, dan dalam penelitian yang sama juga menempatkanIndonesia pada peringkat 57 dalam hal membaca (https://www.idntimes.com/opinion/social/wahyuajisaputra).

Maka, perlulah gerakan literasi itu diperkuat kembali ditengah minimnya minat baca pelajar. Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa, literasi adalah suatu istilah umum merujuk pada berbagai perangkat kemampuan siswa dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung serta memecahkan problematika terhadap tingkatan skill tertentu yang dibutuhkan di kehidupan. Sementara, dalam buku panduan Gerakan Literasi sekolah dijelaskan bahwa Literasi adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. 

Pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah mencanangkan suatu program yang terstruktur dan tersistem lewat perubahan kurikulum dengan menetapkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Sejak Maret 2016, pemerintah telah meluncurkan program ini. Sasaran dari program ini adalah para pelajar dan pelaku pendidikan mulai dari tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT).

Tujuannya adalah agar generasi penerus bangsa melek literasi yakni sekurang-kurangnya melek baca dan tulis. Ketika para pelajar di semua tingkat satuan pendidikan memiliki kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pangkal dari multiliterasi maka akan memberikan positive effect terhadap kemampuan diri seorang literat. Seorang pelajar yang literat tentu akan memiliki kemampuan lebih dari pelajar non-literat. Selain itu tujuan mulia dari program ini tentu saja membentuk kepribadian atau karakter para pelajar. Penguatan pendidikan Karakter (PPK) yang merupakan ciri khas Kurikulum 2013, tidak hanya mampu lewat kegiatan esktrakurikuler kepramukaan, ataupun kegiatan bernuansa religi tetapi juga lewat program Gerakan Literasi Sekolah.

Gerakan Literasi Sekolah sudah digaungkan di SMPN 1 Cilongok. Setiap hari, 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai, siswa-siwa membaca buku yang sudah disediakan di kelas masing-masing. Diharapkan dalam 3 bulan siswa-siswi sudah membaca minimal 1 buku. Kemudian mereka membuat resensi dari buku yang mereka baca. Tidak hanya itu, di setiap kelas di SMPN 1 Cilongok juga sudah menyediakan pojok baca yang nyaman untuk membaca. Pojok baca tersebut juga digunakan untuk menampilkan karya siswa-siswi  seperti puisi dan kata-kata Mutiara.

Link Terkait: https://arlisakadepolicnews.com/2021/04/11

                      Wikipedia.com

 

 


PELAKSANAAN PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA (P5)

DI SMPN 1 CILONGOK

 

P5 adalah projek yang akan menemukan jawaban atas pertanyaan mengenai peserta didik dengan kompetensi seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia.
Projek tersebut dilakukan dengan menanamkan karakter pada pribadi peserta didik berdasarkan nilai-nilai pancasila. Kompetensi P5 memperhatikan beberapa faktor yang dapat memberikan pengaruh, baik faktor internal atau faktor eksternal. Adapun contoh faktor internal yang diperhatikan adalah ideologi, sementara contoh dari faktor eksternal adalah tantangan di era digital. P5 berupaya menjadikan peserta didik sebagai penerus bangsa yang unggul dan produktif. serta dapat turut berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkesinambungan. Visi Pendidikan Indonesia adalah mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila. Sementara Profil Pelajar Pancasila mendukung visi tersebut dengan menjadikan Pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila (https://www.detik.com/edu/sekolah/d-6255504/mengenal-p5-dalam-kurikulum-merdeka-dan-manfaatnya).

Dalam menjalankan dan mendukung visi Pendidikan Indonesia, SMP Negeri 1 Cilongok melaksanakan Presentasi Penilaian P5 tema Kearifan Lokal. Presentasi ini dilaksanakan guna pengambilan nilai untuk tema Kearifan Lokal. Sebelum dilaksanakan presentasi, siswa sudah dibekali materi tentang kearifan lokal. Pertama, seluruh kelas 7, ketika jam pelajaran P5 dipancing untuk memberikan pendapat mereka tentang pengertian kearifan lokal. Mereka memberikan pendapat sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Kedua, guru menjelaskan atau memberikan konfirmasi atas pendapat mereka tentang Kearifan Lokal. Ketiga, siswa-siswi kelas 7 dibagi beberapa kelompok untuk mendiskusikan Kearifan Lokal yang terdapat pada lingkungan tempat tinggal masing-masing. Dalam diskusinya, mereka banyak mengangkat cerita tentang pembuatan cimplung, gula jawa, dan tahu khas daerah Cilongok. Keempat, anggota kelompok merumuskan masalah apa saja dalam pembuatan cimplung, gula jawa dan tahu. Kelima, anggota kelompok mewawancarai (melaksanakan Outing Class/ Belajar diluar Kelas) para pembuat cimplung, gula jawa, dan tahu berdasarkan rumusan masalah yang mereka susun. Kegiatan tersebut juga direkam oleh siswa-siswi anggota kelompok. Keenam, siswa-siswi membuat video, poster dan makalah hasil wawancara atau isi wawancara mereka. Terakhir, dilaksanakanlah presentasi pengambilan nilai P5 tema Kearifan Lokal.

Dari kegiatan P5 ini terdapat banyak manfaat yang didapatkan oleh seluruh anggota satuan pendidikan. Manfaat bagi Satuan Pendidikan: menjadikan satuan pendidikan sebagai sebuah ekosistem yang terbuka untuk partisipasi dan keterlibatan masyarakat. Manfaat bagi Pendidik: memberi ruang dan waktu untuk peserta didik mengembangkan kompetensi dan memperkuat karakter dan profil pelajar Pancasila. pendidik dari mata pelajaran lain untuk memperkaya hasil pembelajaran. Manfaat bagi Peserta Didik: memberi ruang dan waktu untuk peserta didik mengembangkan kompetensi dan memperkuat karakter dan profil pelajar Pancasila. Merencanakan proses pembelajaran projek profil dengan tujuan akhir yang jelas. mengembangkan kompetensi sebagai pendidik yang terbuka untuk berkolaborasi dengan pendidik dari mata pelajaran lain untuk memperkaya hasil pembelajaran.

Link Terkait: https://www.detik.com/edu/sekolah/d-6255504/mengenal-p5-dalam-kurikulum-merdeka-dan-manfaatnya



UJIAN SEKOLAH YANG "MEMANUSIAKAN MANUSIA"

Setelah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar, penghapusan Ujian Sekolah Berstandard Nasional adalah poin penting didalamnya. Sekarang pihak sekolah melalui Ujian Sekolah yang menjadi penentu kelulusan siswa.

Sekolah memiliki kemerdekaan yang bertanggung jawab dalam menilai kompetensi siswa. Ujian sekolah dapat memfasilitasi penilaian tersebut. Di SMP Negeri 1 Cilongok, pelaksanaan Ujian Sekolah berjalan dengan lancar, baik dan sungguh-sungguh. Ujian Sekolah yang diikuti oleh seluruh kelas IX ini dimulai pada hari Senin tanggal 18 April sampai dengan hari Senin tanggal 25 April 2022, selama 6 hari. Dalam menilai kompetensi siswa di Ujian Sekolah ini dilakukan dalam bentuk teks tertulis berbasis kertas (secara luring). Persiapan oleh guru yang matang ikut andil dalam menyukseskan kegiatan ini. Siswapun sudah siap secara fisik dan mental dalam mengikuti ujian Sekolah. Tidak lupa, dalam suasana pandemi, Ujian Sekolah di SMPN 1 Cilongok dilakukan dengan protokol kesehatan ketat.

Ujian Sekolah saat ini sudah tepat karena menekankan 'humanisme' pada pelaksanaanya. Kesan "Belajar 3 tahun, ditentukan dalam 3 hari" yang menakutkan telah dihilangkan. Kalimat dalam banner yang sebelumnya tertulis "Harap tenang ada ujian" sudah berganti menjadi "Harap senang ada ujian". Tema humanis dalam pelaksanaan Ujian Sekolah membuat peserta didik dan guru dalam posisi yang diuntungkan. Tidak ada ketegangan karena beban- beban target harus mencapai passing grade secara nasional. Walau demikian standar acuan harus tetap menjadi pedoman dalam hal ini Prosedur Standar Ujian Sekolah (POS US).

Link terkait: https://youtu.be/6H-yJpP4L50

 

PENERAPAN KETERAMPILAN 4C DALAM UJIAN PRAKTEK KELAS IX SMPN 1 CILONGOK 

Dalam pembelajaran masa kini, 4C (Critical thinking, Communication, Collaboration and Creativity) skills sangat diperlukan oleh peserta didik dalam menghadapi masa depan yang penuh tantangan dan dinamika. Keempat keterampilan tersebut juga sudah diterapkan dalam Pendidikan Nasional Indonesia. Hal tersebut merupakan satu langkah positif khususnya dalam meningkatkan pola pikir peserta didik dan kemajuan pendidikan Indonesia. Dalam pembelajaran, guru dituntut untuk mengembangkan bahan ajarnya agar keterampilan 4C dapat diterapkan.

Critical thinking (berpikir kritis) adalah melihat masalah dengan cara baru dan menghubungkan pembelajaran lintas mata pelajaran dan disiplin ilmu. Sementara itu, Communication (komunikasi) yang efektif merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran karena tidak ada acara menyelesaikan masalah di kelas tanpa komunikasi yang efektif. Keterampilan Collaboration (kolaborasi) adalah tentang bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan menempatkan bakat, keahlian dan kecerdasan untuk bekerja. Yang terakhir adalah Creativity (kreativitas). Abad 21 adalah saat yang menyenangkan untuk menjadi kreatif berkat teknologi. Tidak hanya dengan cara kreatif yang tradisional tetapi juga bisa memilih untuk memaksimalkan kecanggihan teknologi yang ada.

  Dalam proses pembelajaran, SMPN 1 Cilongok sudah menerapkan keterampilan 4C yang sudah dijelaskan diatas. Ketika kelas IX melaksanakan ujian praktek, pada tanggal 21-28 Maret 2022, peserta didik membuat sebuah pertunjukkan yang mengimplementasikan 11 mata pelajaran didalamya. Skills 4C yang harus mereka terapkan dalam proses pertunjukkan tersebut pun menjadi indikator penilaian ujian praktek. Sebagai contoh, salah satu kelompok mengusung tema “HUT RI, Melestarikan Keberagaman Budaya di Era Globalisasi”. Didalam pertunjukkan tersebut ditampilkan seni bela diri yang dikombinasikan dengan seni tari tradisional dan modern. Pertunjukkan tersebut sudah jelas mengimplikasikan ketrampilan yaitu kreativitas dan kolaborasi yang sangat menonjol. Penerapan ketrampilan peserta didik tersebut juga didukung oleh pernyataan Mahfuri selaku ketua panitia Ujian Praktek SMPN 1 Cilongok Tahun Pelajaran 2021/2022. “Kita lihat bersama bahwa penampilan anak-anak sangat luar biasa, diluar dugaan kita bahwa kreativitas anak-anak patut kita acungi jempol. Bahkan dalam penampilannya banyak yang memberikan standing applause termasuk saya”.

Dengan adanya Ujian Praktek yang menerapkan keterampilan 4C ini, maka SMPN 1 Cilongok sudah meningkatkan pola pikir peserta didik serta menyiapkan peserta didiknya untuk menghadapi era globalisasi di masa depan yang penuh tantangan. Harapan kedepannya, pembelajaran abad 21 harus dimiliki oleh seluruh peserta didik generasi milenial dan untuk guru dapat menerapkan konsep 4C dimulai dari pendidikan dini, dasar, menegah, hingga perguruan tinggi.

 

Link terkait:

https://youtube.com/playlist?list=PL1G34Pg3UWBCAsOIFoQ_ZhUxFILbQeblf

 

Kurikulum Merdeka Hargai Proses Belajar Siswa

Kurikulum merdeka menjadi opsi yang paling menjanjikan untuk mengatasi ketertinggalan dan hilangnya pembelajaran atau yang biasa disebut learning loss di Indonesia yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Penyederhanaan kurikulum darurat ini juga dinilai lebih efektif dalam kegiatan pembelajaran yang sangat terbatas di masa pandemi.

“Arah perubahan kurikulum yang termuat dalam Merdeka Belajar Episode 15 ini adalah struktur kurikulum yang lebih fleksibel, fokus pada materi yang esensial, memberikan keleluasan bagi guru menggunakan berbagai perangkat ajar sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik, serta aplikasi yang menyediakan berbagai referensi bagi guru untuk terus mengembangkan praktik mengajar secara mandiri dan berbagi praktik baik,” terang Nadiem Anwar Makarim saat peluncuran Merdeka Belajar Episode 15 secara daring.

Lebih lanjut, para guru diuntungkan dengan adanya perubahan kurikulum tersebut. Sebelumnya, guru harus menyelesaikan masalah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang harus dicapai setiap siswa. Siswa dituntut untuk mencapai nilai tertentu agar mereka lulus dalam setiap mata pelajaran tanpa menghargai setiap proses belajar dan capaian siswa. Tetapi, dalam Kurikulum Merdeka guru dapat lebih fleksibel dan bebas berkreasi semaksimal mungkin untuk mencapai pemahaman siswa terhadap materi belajar. Dengan menerapkan Kurikulum Merdeka guru dapat mengetahui minat, bakat, dan kemampuan siswa melalui asesmen pembelajaran. Guru dapat memetakan kebutuhan siswa, sehingga guru dapat menyusun metode serta strategi pembelajaran sesuai minat dan profil siswa.

Salah satu contoh sekolah yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka adalah SMPN 1 Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah. Pembelajaran yang dilakukan di sekolah ini adalah dengan menerapkan project by learning. Siswa diajak membersihkan dan menebar benih ikan ke Situ Elok, Pernasidi, untuk mengetahui dampak sampah dan melestarikan ikan. Selain itu, pada kearifan lokal, guru SMPN 1 Cilongok juga mengajarkan budaya lokal yaitu karawitan.

Dengan perubahan yang dirasakan para guru, kita berharap agar semua guru di Indonesia mempunyai semangat untuk memulihkan pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan dengan kurikulum merdeka dan platform Merdeka Mengajar yang akan membantu guru dan kepala sekolah dalam pelaksanaan pembelajaran.


Link terkait:

https://kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id/

https://kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id/video/merdeka-belajar-episode-15-kurikulum-merdeka-dan-platform-merdeka-mengajar/

Tuliskan Komentar Anda