Artikel ini merupakan surat terbuka dari Bapak Trisnatun, M.Pd, mantan Kepala Sekolah, untuk saudara-saudara guru karyawan di SMP N 1 Cilongok. Dikirim lewat grup Whatsapp pada tanggal 4 Oktober 2025. Setelah terlewat beberapa waktu, dan SMP N 1 Cilongok telah berganti Kepala Sekolah (Plt) Bapak Slamet Riyadi, S.Pd, dan telah mengalami kegiatan EKKS, tanggal 26 Nopember 2025, surat terbuka ini baru sempat di tayangkan oleh admin. Semoga ada manfaat yang bisa diambil oleh pembaca. Selamat membaca. Terimakasih.
Perubahan, Perbedaan, dan Risiko di Sekolah
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Sekolah adalah ruang belajar, tetapi pada hakikatnya juga ruang perubahan. Tidak ada yang betul-betul diam di sana. Setiap hari selalu ada pergeseran, entah kecil atau besar. Kurikulum berganti, aturan diperbarui, kepala sekolah datang dan pergi. Semua itu menandakan bahwa sekolah adalah panggung tempat perubahan menjadi hukum alam yang tak bisa ditolak.
Perubahan kurikulum misalnya, selalu membawa kegelisahan. Guru dituntut menyesuaikan perangkat, strategi, hingga cara menilai. Murid pun dipaksa menyesuaikan diri dengan metode baru yang kadang terasa asing. Ada yang merasa lelah, ada yang bingung, ada yang menunggu instruksi sambil berkeluh-kesah. Tetapi, tanpa perubahan itu sekolah bisa menjadi museum: indah dilihat, tetapi mati di dalam. Ki Hajar Dewantara pernah mengingatkan, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Pendidikan adalah bagian dari hidup itu sendiri, dan hidup selalu bergerak. Maka, perubahan adalah tanda kehidupan, sekaligus ujian bagi daya lenting kita dalam menyikapinya.
Selain perubahan, perbedaan juga tidak pernah absen dari kehidupan sekolah. Para guru memiliki gaya mengajar sendiri-sendiri, murid datang dengan latar belakang hidup yang beragam, bahkan antar kepala sekolah pun berbeda cara memimpin. Ada kepala sekolah yang keras, ada yang teduh, ada yang detail, ada pula yang memberi ruang luas untuk berpikir. Semua dinamika itu bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipahami sebagai kenyataan yang memperkaya khasanah. Dari keragaman pengalaman itulah sekolah belajar dewasa. Ia ditempa untuk mengelola perbedaan sebagai energi pertumbuhan, bukan sumber konflik.
Namun, perubahan dan perbedaan hampir selalu membawa risiko. Pergantian kepala sekolah misalnya, bisa membuat program lama berhenti di tengah jalan, semangat guru melemah, kebiasaan yang nyaman berubah arah. Begitu juga perubahan kurikulum dapat menimbulkan tekanan bagi murid, kebingungan bagi guru, dan bahkan kebuntuan bagi orang tua. Tetapi tanpa risiko itu, sekolah hanya berputar di tempat, tanpa keberanian melangkah maju. Risiko adalah harga yang wajar untuk sebuah perbaikan. Mochtar Lubis pernah mengatakan, “Keberanian menghadapi risiko adalah tanda kedewasaan.” Maka, dunia pendidikan seharusnya justru dilatih untuk berani menanggung risiko, sebab dari situlah lahir kemajuan.
Sayangnya, ada fakta lain yang sering membuat getir. Perubahan di sekolah tidak selalu lahir dari kebutuhan belajar yang murni. Sering kali ia muncul dari kepentingan pragmatis, yang bergerak mengikuti arah angin kekuasaan. Aturan-aturan kerap berubah seperti cuaca di bulan September 2025 ini: biasanya kemarau, tetapi justru turun hujan deras yang membawa banjir. Kurikulum disusun dengan jargon indah, penuh rencana besar, tetapi segera direvisi lagi dengan jargon baru yang lebih digital, lebih global, lebih keren—seolah-olah pendidikan hanyalah panggung lomba jargon, bukan perjuangan substansi.
Guru dipaksa mengikuti pelatihan demi sertifikat, padahal esok harinya materi pelatihan bisa dianggap kadaluarsa. Kepala sekolah pun diputar-putar seperti bola pimpong, kadang bukan karena prestasi, melainkan karena peta politik birokrasi. Ada yang dibiarkan terlalu lama meski sudah kehilangan arah, ada yang dipindah cepat meski sedang menata dengan baik. Seolah-olah sekolah bukan lembaga yang membentuk peradaban, melainkan laboratorium percobaan bagi eksperimen yang tak pernah selesai.
Akhirnya siapa yang paling lelah? Guru dan murid. Siapa yang paling bingung? Orang tua. Dan siapa yang paling untung? Mereka yang memproduksi aturan baru, modul baru, proyek baru—sementara sekolah di bawah hanya jadi penonton yang dipaksa tepuk tangan. Inilah kenyataan pahit yang kerap terjadi: mereka yang bekerja di ruang kelas berhadapan dengan riuh kebijakan yang ditulis di ruang rapat, sering kali tanpa mendengar suara mereka yang benar-benar menjalani pendidikan sehari-hari.
Maka, jika besok ada kurikulum baru lagi, jangan kaget. Itu sudah tradisi: gonta-ganti baju, bukan ganti isi kepala. Jika ada pergantian kepala sekolah lagi, jangan terkejut. Itu juga tradisi: rotasi jabatan, bukan rotasi gagasan. Jika ada program baru yang diluncurkan dengan spanduk besar, sambutlah dengan senyum tipis saja. Karena biasanya, program itu lebih sibuk dipikirkan cara laporannya ketimbang cara manfaatnya.
Sekolah kita ibarat orang yang rajin sekali ganti sandal, tetapi lupa mencuci kakinya. Dari luar kelihatan berbeda, tetapi baunya tetap sama.
Namun, di balik kegetiran itu, kita tidak boleh kehilangan harapan. Perubahan, perbedaan, dan risiko harus dilihat bukan sebagai beban, tetapi sebagai guru yang mengajar kita tentang kebijaksanaan. Sebab pendidikan sejatinya bukan hanya urusan kurikulum, bukan pula soal jabatan, melainkan tentang bagaimana kita menumbuhkan manusia yang merdeka berpikir, merdeka berbuat, dan merdeka bermimpi.
Nurcholish Madjid pernah menekankan, “Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia.” Artinya, tujuan akhir pendidikan bukan sekadar angka rapor, bukan pula sekadar kepatuhan pada sistem, melainkan tumbuhnya manusia yang berakal budi, mampu menghargai perbedaan, dan sanggup mengambil keputusan dalam dunia yang berubah. Sementara Daoed Joesoef mengingatkan, “Pendidikan itu harus membuat orang berani menghadapi hidup.” Tanpa keberanian itu, sekolah hanya akan menjadi tempat yang sibuk mencatat perubahan di papan pengumuman, tetapi gagal menyiapkan murid menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
Maka biarlah semua dinamika itu kita terima dengan kesadaran. Kita rawat dengan kejujuran. Kita kelola dengan keberanian. Dan kita doakan dengan harapan yang tulus, agar setiap perubahan melahirkan kemajuan, setiap perbedaan menumbuhkan kebijaksanaan, dan setiap risiko melatih kita untuk lebih dewasa dalam mengabdi pada anak-anak bangsa.
Ajibarang, 4 Oktober 2025


Tuliskan Komentar Anda