Renungan oleh Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Ada satu pertanyaan yang menggoda logika sekaligus mengguncang iman: apakah pahala surga dan siksa neraka juga diperhitungkan atas tindakan manusia yang legal dan ilegal? Bila jawabannya iya, maka kehidupan ini tampak seperti pasar besar yang diatur oleh hukum laba-rugi moral. Namun di dunia nyata, logika itu kerap dibalik: siapa yang cerdik secara ilegal, bisa hidup lebih lega. Sementara yang legal, sering harus rela hidup sederhana dengan kepala tegak tapi dompet menunduk.
Maka muncullah adagium getir dari perut kota: "Sembahlah uang jika hidup ingin senang." Kalimat itu terdengar seperti satire, tapi sesungguhnya menggambarkan realitas yang diamini banyak orang — baik yang jujur mengakui, maupun yang pura-pura mengingkari.
Uang: Kesepakatan Kolosal Manusia
Fakta sosial, ekonomi, dan budaya menunjukkan bahwa uang bukan sekadar alat tukar, melainkan alat ukur hampir segalanya. Nilai, status, kuasa, cinta, bahkan martabat. Tak ada lembaga sosial yang bisa hidup tanpa uang. Rumah tangga, sekolah, rumah ibadah, partai politik, hingga negara — semuanya bergantung padanya.
Manusia modern telah mencapai satu konsensus universal yang mungkin melampaui agama: uang itu penting, bahkan sangat penting.
Tanpa uang, kebaikan sulit berwujud. Amal tak bisa dijalankan, ibadah sering tertunda, bahkan cinta pun kadang kehilangan makna. Tak berlebihan jika ada yang menyebut, “uang itu seperti matahari.” Ia memberi terang pada seluruh aspek kehidupan manusia.
Bahkan yang paling sakral sekalipun — ideologi dan keimanan — tak luput dari orbit uang. Pertahanan butuh dana, keamanan perlu anggaran, dan perdamaian pun kini ada tarifnya.
Sinisme yang Terselip di Balik Jubah Suci
Kaum spiritualis dan religius sering menasihati, “Jangan cintai dunia, jangan jadikan uang sebagai tujuan.” Mereka memuji kesederhanaan, membacakan ayat tentang zuhud, bahkan menatap langit sambil berkata, “Rezeki itu urusan Tuhan.”
Namun, ironinya: tak satu pun dari mereka hidup tanpa uang.
Retret rohani perlu dana konsumsi. Ceramah di televisi ada tarif. Ziarah suci ada biaya perjalanan. Bahkan membangun rumah ibadah pun dimulai dari rapat dana.
Mereka yang di podium menasihati umat agar tidak diperbudak materi, setelah turun mimbar sering membuka amplop dengan lirih: “Alhamdulillah, rezeki hari ini.”
Mungkin uang memang bukan Tuhan, tapi bahkan para penjaga rumah Tuhan pun tidak bisa menolak daya hidupnya.
Kita hidup di zaman ketika nasihat anti-materi justru membutuhkan sponsor.
Ketika Uang Menjadi Tujuan
Namun di titik inilah manusia mulai kehilangan arah: ketika uang bukan lagi alat, tapi tujuan. Ketika uang bukan lagi sarana hidup, melainkan hidup itu sendiri.
Uang memberi rasa aman, tapi juga mencuri rasa damai. Ia membangun gedung tinggi, tapi juga menjatuhkan nilai diri. Banyak orang kehilangan nurani karena terlalu lama bekerja di bawah sinar matahari uang — silau dan panasnya membutakan.
Sementara mereka yang memilih jalan “legal tapi sulit” tampak kalah di dunia, padahal mereka sedang menang di ranah hati.
Uang bisa membeli penghormatan, tapi tidak rasa hormat.
Bisa membeli cinta, tapi bukan kesetiaan.
Bisa membiayai amal, tapi tak bisa membeli keikhlasan.
Hidup di Zaman Ketika Segalanya Dihitung
Kita kini hidup di dunia yang menaruh angka di atas segalanya.
Bahkan kebaikan diukur dari berapa besar dana CSR, bukan dari ketulusan hati. Orang lebih bangga menyumbang di depan kamera daripada menolong diam-diam.
Agama berbicara tentang surga dan neraka, tapi di balik layar acara keagamaan, panitia masih sibuk membagi amplop “ucapan terima kasih.”
Barangkali malaikat di akhirat nanti akan kebingungan menilai amal manusia modern.
Di buku catatan surga tertulis:
“Ia rajin bersedekah, tapi semua uangnya hasil mark-up proyek.”
Lalu malaikat berbisik,
“Ini masuk surga, neraka, atau rekening offshore?”
Akhirnya...
Ah, uang.
Kau bukan Tuhan, tapi manusia memperlakukanmu lebih teratur dari jadwal salat.
Mereka menghadapmu setiap pagi, menunduk kepadamu setiap malam, dan pasrah ketika engkau pergi.
Mungkin kelak di akhirat, Tuhan akan bertanya dengan senyum getir:
“Kalian lebih percaya Aku… atau saldo kalian?”
Dan manusia, dengan refleks tanpa sadar, akan menjawab:
“Tergantung… kursnya berapa hari ini?”
Ajibarang, 21 Oktober 2025


Tuliskan Komentar Anda