SAAT ini di masa pandemi telah mereda, tetapi degradasi mental siswa usai menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ)
banyak terjadi. Sebagaimana dirasakan oleh para guru dan pemberitaan
media massa, banyak siswa mengalami
penurunan semangat belajar, beribadah dan karakter
lainnya. Ini menjadi perhatian dan keprihatinan bersama.
Ketika
pembelajaran tatap muka (PTM) dimulai, aspek
pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran sangat kurang.
Selain sisi akademik,
aspek-aspek afeksi
dan sosial siswa di kelas juga menurun. Banyak ditemui, ketika pembelajaran berlangsung, ada siswa yang bermain ponsel.
Mereka lebih asyik dengan gadget
hingga bersanta-santai dan tidak serius dalam
pembelajaran.
Rupanya 'learning loss' sebagaimana diungkapkan Menteri
Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi atau Mendikbudristek
Nadiem Makarim, sudah banyak terjadi. Hilangnya
pengetahuan dan keterampilan, baik itu secara
umum atau spesifik, atau terjadinya kemunduran proses akademik akibat dampak pandemi
sudah terlihat gejalanya.
Kebiasaan siswa
saat pandemi dalam hal pembelajaran di
rumah ternyata benar-benar berpengauh ketika PTM dilaksanakan. Dukungan pembelajaran berupa teknologi informasi yang sebelumnya membantu, di
sisi lain turut membentuk kebiasaan
baru dalam mengakses
internet dalam waktu lama.
Tidak menghargai yang menerangkan materi
di depan kelas hingga rendahnya partisipasi dalam PTM menjadi dua contoh yang
mencolok.
Untuk itulah dalam PTM sekarang ini,
harus dibangunkan kesadaran tentang
pentingnya pembelajaran bersama. Melalui PTM, peserta didik
harus diperkenalkan lagi disiplin
waktu, disiplin masuk kelas, disiplin
belajar,
disiplin beribadah, dan disiplin
beristirahat.
Melalui PTM,
program pembiasaan, peneladanan, dan pembudayaan karakter positif,
akhlak mulia, dan kepribadian yang baik dikembangkan. Dengan PTM, tujuan
pembelajaran secara komprehensif dan autentik, baik aspek kognitif,
afektif, psikomotorik, maupun mental diharapkan dapat tercapai.
Secara khusus penggunaan model 'Project Based Learning' dalam PTM diharapkan
dapat menjawab tantangan
pembelajaran pasca pandemi.
Melalui model pembelajaran inilah, siswa menjadi subyek
pembelajaran. Ia dilibatkan penuh untuk menggali
pengetahuan dan keterampilan melalui proses terstruktur, pegalaman nyata dan teliti untuk menghasilkan karya
atau produk.
Melalui pembelajaran ini siswa dan guru dapat aktif berkolaborasi
membahas dan memecahkan
suatu pelajaran. Dengan inilah diharapkan pembelajaran yang menarik
dan menyenangkan. Dengan inlah diharapkan
tujuan pembelajaran dan hasil pembelajaran dapat dicapai dengan
baik.
Listia Tri Yuni S., S.Pd. - Guru Matematika
SMP N 1 Cilongok


Tuliskan Komentar Anda