Siapkah Guru Menghadapi Kurikulum Merdeka

SIAPKAH GURU MENGHADAPI KURIKULUM MERDEKA?

SIAPKAH GURU MENGHADAPI KURIKULUM MERDEKA?

ANTANGAN PENERAPAN PENDIDIKAN TERDIFERENSIASI

Penulis :  Sustiwi Dwi Pamuji, S.P.

Guru Mapel IPA SMP Negeri 1 Cilongok

Situasi pembelajaran masa pandemi sering disebut ikut andil dalam terciptanya lost generations. Untuk itu pasca pandemi ini perlu percepatan pemulihan. Apalagi pemerintah memiliki program untuk menciptakan generasi emas di 2024.  Adanya pandemi covid 2019 sedikit banyak berpengaruh pada target pemerintah dalam pencapaiannya. Pemerintah pun tidak tinggal diam demi percepatan pemulihan tersebut. 


Sekolah merupakan institusi pegang peran penting dalam membentuk karakter dan intelektual anak.  Sekolah juga yang diharapkan akan mencetak generasi- generasi penerus bangsa yang terbaik.  Sejauh ini pemerintah telah membuat berbagai kebijakan pengembangan dan penetapan kurikulum merdeka  sebagai kebijakan nasional dilakukan secara bertahap untuk memastikan bahwa desainnya sudah tepat untuk mendorong transformasi pembelajaran di sekolah dan daerah yang beragam yakni sebagai berikut : 1. Kurikulum 2013, 2. Kurikulum 2013 dan Kurikulum Darurat (Kur-2013 yang disederhanakan), 3. Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat, dan Kurikulum Prototipe, 4. Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat, dan Kurikulum Merdeka  sebagai opsi bagi semua satuan pendidikan, 5. Penentuan kebijakan kurikulum nasional berdasarkan evaluasi terhadap kurikulum pada masa pemulihan pembelajaran.


Terkait dengan berbagai perubahan yang ada, tentu banyak tantangan yang dihadapi.  Mengacu publikasi data Kemdikbud, saat ini sekolah menganut sistem PPDB berikut zonasi.  Konon sistem zonasi memiliki beberapa keuntungan antara lain keuntungan yaitu : 1.Pemerataan kualitas pendidikan; 2. Menciptakan banyak sekolah favorit; 3. Peningkatan kualitas guru; 4. Mendekatkan Lingkungan Sekolah Dengan Lingkungan Keluarga; 5. Akses Pendidikan Lebih Merata; 6. Menghemat waktu dan biaya; 7. Menciptakan Suasana Kelas Heterogen

Namun sistem zonasi tersebut juga memiliki kelemahan, yakni :  1. Pilihan Sekolah Siswa Lebih Terbatas; 2. Membuat Siswa Tidak Semangat Belajar; 3. Ruang Lingkup Yang Terbatas; 4. Sistem Yang Masih Mudah Dimanipulasi; 5. Fasilitas Pendidikan Yang Belum Merata.

Terlepas dari polemik berbagai masalah yang timbul dalam sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi yang saat ini digunakan, guru tetap harus mengajar, siswa tetap harus belajar.  Semua harus selalu mengikuti perubahan dan perkembangan yang ada, meski setiap perubahan yang ada akan memaksa semua pihak terkait berjibaku mengkondisikan dan menyesuaikan, semua perubahan yang diberlakukan.  Dalam hal ini harus dipahami, sebenarnya tidak ada sekolah yang ideal, karena setiap sekolah pasti ada kelebihan dan kekurangan, dengan ciri khasnya masing-masing dalam penerapan pola ajar dan aturan atau ketentuan sekolah, tidak ada pula guru yang sempurna, demikian pula kondisi siswa sangat heterogen dalam hal latar belakang keluarga, intelegensi dan karakternya.  Semua adalah tantangan yang harus dihadapi dan harus dicari solusi demi keberlangsungan pendidikan di negeri ini.


Lingkungan dapat mempengaruhi respons anak dan kemampuan anak untuk terlibat dalam interaksi sosial. Berada di lingkungan yang tepat akan mendorong anak berkembang secara lebih optimal, termasuk terkait bakat minatnya. Remaja yang berkembang di lingkungan yang kurang kondusif, kematangan emosionalnya terhambat.  Sedangkan remaja yang tinggal di lingkungan yang kondusif dan harmonis dapat membantu kematangan emosi remaja.  

Adanya kondisi heterogen di kelas mestinya dapat mendorong guru lebih kreatif ketika menyajikan materi pembelajaran. Kreativitas ini terkadang muncul karena masalah yang ditemui ketika memberikan materi pembelajaran. Salah satunya adalah masalah siswa yang kurang menunjukkan minat pada mata pelajaran yang sedang diajarkan. Metode pembelajaran berdiferensiasi dapat jadi solusi alternatif ketika guru terhambat masalah tersebut.


Menurut seorang praktisi pendidikan Atik Siti Maryam yang mengutip pendapat Tomlinson (2001: 45), bahwa pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodasi dari semua perbedaan murid, terbuka untuk semua dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu. Dalam penerapannya ada 3 strategi pembelajaran diferensiasi, yakni diferensiasi kontens, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.

Diferensiasi konten adalah apa yang kita ajarkan kepada peserta didik.  Dalam hal ini kontens ini merupakan tanggapan dari kesiapan, minat ataupun profil belajar murid yang berbeda atau kombinasi ketiganya, untuk itu guru perlu memvariasikan metode dan pendekatan mengajar sesuai kebutuhan.

Pada Diferensiasi Proses, guru perlu menyesuaikan dengan materi yang akan dipelajari apakah peserta didik akan belajar secara berkelompok atau mandiri, bagaimana skenarionya, termasuk strategi pengelompokannya.

Sedangkan pada Diferensiasi Produk, ini berkaitan dengan hasil atau unjuk kerja dari peserta didik yang akan ditampilkan ke guru. Penugasan produk harus membantu murid secara individual atau kelompok, memperluas apa yang mereka pelajari selama periode waktu tertentu. 


Pembelajaran diferensiasi diharapkan bisa menjadi solusi yang dapat mempercepat pemulihan pasca pandemi covid demi keberlangsungan pendidikan di Indonesia dan bisa membentuk Profil Pelajar Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia; berkebhinekaan global, bergotong-royong , mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.  Bagaimanapun kebijakan sudah diluncurkan, kurikulum baru sudah dilgulirkan, dan kita sebagai pelaku pendidikan generasi bangsa harus segera menyesuaikan diri terhadap perubahan yang ada demi terwujudnya harapan agar bisa menciptakan generasi emas di 2024.







Oleh: Melyza Yanuartie R, S.Pd.

Membangun pendidikan pada hakikatnya sama halnya dengan membangun manusia. Mengapa? Karena subjek utama pendidikan adalah manusia itu sendiri. Mendidik berarti mempersiapkan dan membangun masa depan. Oleh karena itu untuk menjadi seorang pendidik dibutuhkan keahlian yang mumpuni, tidak hanya menguasai bidang studinya tetapi juga harus mampu menangani banyak peserta didik dengan latar belakang yang beranekaragam. Oleh karena itu tak heran, kurikulum pendidikan Indonesia kerap berganti-ganti.

Menjadi guru bukanlah perkara yang mudah. Banyak hal yang perlu dibenahi setiap harinya. Menjadi guru adalah mempersiapkan masa depan. Menjadi guru artinya siap menerima perubahan, keluar dari zona nyaman dan berkorban banyak waktu, tenaga dan pikiran. Oleh karena itu, sudah barang tentu sebelum bertemu peserta didik, guru wajib mempersiapkan segala sesuatunya secara baik. Guru wajib belajar bagaimana merancang pembelajaran yang peka terhadap zaman.

Perubahan kurikulum juga bukan barang baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sudah beberapa kali setelah Indonesia merdeka, kurikulum Indonesia mengalami pergantian. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Seharusnya perubahan kurikulum tersebut diimbangi dengan perkembangan kompetensi pendidik dan peserta didik. Jangan sampai perubahan kurikulum hanyalah “ganti baju” semata tetapi isi tetap sama. Maksudnya, masih banyak para guru (termasuk saya) yang melakukan praktik-praktik mengajar sistem lama dengan bingkai kurikulum baru. Jadi, perubahan kurikulum dimaknai sebagai pergantian nama dan dokumen saja. Percuma, dan tentu saja makin memantapkan pernyataan “Apapun kurikulumnya, cara mengajarnya tetap sama”.

Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan menyatakan, “Perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama. Besok di manapun Anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas Anda. Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas."

Nadiem juga menambahkan sekarang saatnya siswa belajar dari dunia sekitarnya tetapi kadang kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan. Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai dasar prinsip birokrasi. Sudah saatnya guru diberi kepercayaan untuk berinovasi supaya murid terinspirasi. Sudah saatnya guru berkolaborasi, mengajak siswa berdiskusi.

"Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.” Pungkas mantan bos Gojek.

Rasa-rasanya pernyataan Mas Menteri ini patut diaminkan dengan serius karena banyak guru mengalami betul bagaimana dituntut untuk membuat administrasi yang tak berkesudahan tanpa manfaat yang jelas. Sudah saatnya guru berubah, menjadi guru yang merdeka. Guru yang tidak hanya mempunyai target memberi nilai tinggi kepada murid tapi tanpa isi. Guru yang selalu memotivasi untuk berkompetisi, bukan berkolaborasi. Saatnya guru betul-betul memaknai bahwa pergantian kurikulum sejatinya sebuah perubahan menuju kebaikan, guna mengembalikan fitrah guru yang digugu lan ditiru, bukan wagu tur saru.

Kurikulum Merdeka yang digaungkan pemerintah belakangan ini dianggap menjadi salah satu langkah pemulihan belajar pasca pandemi. Dikutip dari laman Kemendikbud, “Guru seringkali memiliki banyak tugas dan tanggung jawab baik yang terkait dengan pembelajaran dan administrasi. Guru sering mengikuti banyak pelatihan namun tidak sesuai dengan kebutuhannya. Guru yang merasa kelelahan dan merasa tidak berkembang kariernya meskipun sudah mengajar bertahun-tahun.

Program Guru Belajar dan Berbagi Seri Guru Merdeka Belajar adalah program yang bertujuan untuk membantu guru mendapatkan kunci pengembangan diri: kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karier.”

Pemerintah sejatinya telah hadir di tengah-tengah guru dan peserta didik untuk menyediakan berbagai fasilitas guna memulihkan pembelajaran pasca pandemi. Guru sudah bisa mengakses berbagai perangkat ajar yang didapat secara lengkap dan gratis untuk digunakan saat pembelajaran. Begitu juga dengan siswa, pemerintah telah berupaya maksimal dengan menyediakan akun belajar untuk digunakan selama pembelajaran daring maupun luring. Sayangnya, hal tersebut belum bisa dimanfaatkan secara maksimal karena kegagapan teknologi dan ketidakmauan untuk membuka diri.

Kini, saatnya guru fokus, mempersembahkan yang terbaik untuk generasi penerus yang kerap tak terurus. Tentu, perubahan tidak akan bisa berjalan secara serta merta tetapi sedikit saja kemauan untuk berubah pasti akan membawa dampak menuju ke arah yang lebih baik.

Marilah para guru, mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal yang kecil serta mulai saat ini juga. Tak perlu menunggu nanti, bergerak serentak membawa kapal besar ini menuju kemajuan yang kita idam-idamkan. Yakinlah, bahwa pendidikan maju tentu ada pada guru yang digugu lan ditiru. Saatnya kita merdeka belajar, merdeka mengajar dan merdeka berkarya.

Tuliskan Komentar Anda