Kisah Cinta Petani Sawah Dan Celeng

KISAH CINTA PETANI, SAWAH, DAN CELENG

KISAH CINTA PETANI,  SAWAH, DAN CELENG

Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

Sawah, Sekolah, dan Sejumput Filosofi

Di desa, sawah bukan hanya tempat bertanam. Ia adalah ruang hidup. Di situ ada Pak Tani yang menanam, mencangkul, menyiram. Ada juga yang cuma lewat, jalan- jalan cari udara segar. Ada yang duduk di galengan sambil sibuk cari sinyal untuk selfie.

Ada yang hadirnya tak disukai petani, dianggap hama. Tikus, burung, belalang, keong dan mungkin wereng mereka haram ada di sawah.
Pembaca bisa membayangkan bahwa di sawah jaman dulu ada sapi, kerbau dan kambing, bahkan ada yang sering jadi hama lebih dari tikus yaitu celeng.

Sawah bukan sekadar bentang lahan untuk panen padi, tetapi medan di mana nilai-nilai budaya, kesabaran, dan filosofi tumbuh subur. Maka tak berlebihan bila kita membayangkan sekolah sebagai sawah.

Sekolah, seperti sawah, bukan tempat yang steril. Ia penuh dinamika. Tempat benih-benih bernama anak didik disemai, dirawat, dan—kalau tidak keburu dirusak burung atau diinjak hama—dipanen sebagai manusia utuh. 
Minimal itulah yang tercetak di banyak tulisan mengenai pendidikan, buku ajar, indikator akreditasi dan papan visi misi.

Namun, benarkah sekolah sudah seperti sawah yang subur? Ataukah sekolah hanya ladang kering yang ditanami dengan program sesaat, sporadis, diskontinu dan panennya segala buah yang diragukan kualitasnya dan harus serba digital?

Petani, Mandor, dan Orang-Orangan Sawah

Dalam analogi ini, guru adalah petani. Mereka datang pagi-pagi, membawa cangkul bernama RPP, mencabuti rumput liar bernama distraksi, menambal saluran irigasi kurikulum, bahkan kadang harus menyiram semangat sendiri sebelum menyiram anak-anak. Petani sejati tak hanya mengandalkan pupuk pabrikan, mereka membaca cuaca, merasakan tanah, dan memahami bahasa tumbuhan.

Begitu pula guru. Ia tidak hanya mengajar dari buku, tetapi dari nurani. Tidak cukup hanya bisa mengulang materi; ia harus membaca denyut kelas, memahami ragam karakter anak-anak, dan menyesuaikan cara menanam ilmunya.

Namun guru tak bisa bekerja sendiri. Kepala sekolah idealnya adalah petani strategis—bukan sekadar mandor pencatat hasil panen, apalagi orang-orangan sawah yang cuma berdiri agar tampak "ada". Ia harus hadir dalam proses bertani itu. Menyediakan pupuk, memetakan lahan, mengatur rotasi tanam, bahkan ikut merasakan panas dan lumpur jika perlu.

Tantangan yang selalu harus di hadapi oleh para petani pendidikan hari ini, yaitu para kepala sekolah dan guru perlu adalah perubahan pola pikir. Para "petani" di sawah pendidikan era global harus meninggalkan cara pikir tetap (fixed mindset).  Bukan bertahan dan merasa metode lama selalu relevan. Guru tidak boleh berpikir  bahwa anak-anak harus menyesuaikan sistem. Sebaliknya, para "petani" dan pemilik benih harus mengganti pola pikirnya yang tetap menjadi pola pikir yang bertumbuh (growth mindset). Harus menyediakan kemungkinan agar murid tumbuh menjadi bagian masyarakat hari depan yang berani mengambil peran dalam kehidupan.
Guru harus percaya bahwa setiap murid bisa berkembang jika diberikan bimbingan dan kesempatan.
 "Pendidikan tidak memisahkan aku dari rakyatku, tapi justru menambah keberanianku menjadi bagian dari mereka." Tulis WS Rendra. 

Guru harus membumi, menyapa murid dengan empati, bukan dengan rasa curiga dan penghakiman. Apa pun yang ditampilkan oleh perilaku belajar murid, guru harus mampu memberi ruang kemungkinan bagi murid untuk bertumbuh. Pendidikan tidak boleh mencerabut murid dari akar budaya dan jati diri masyarakatnya. 
Untuk itu guru pun harus belajar bertumbuh dan selesai dengan persoalan dirinya sendiri. Tugas guru seringkali terjebak hanya pada level kepentingan administratif, monoton dan tidak bertumbuh. 

Celeng: Hama atau Harapan?

Celeng dalam dunia pertanian dianggap hama. Celeng datang malam-malam, mengobrak-abrik tanaman, mencuri jagung, meninggalkan jejak tanah yang porak-poranda. 
Begitu pula dalam ruang kelas: kadang ada murid-murid yang dicap pembangkang, perusuh, atau pemalas. Guru yang kurang memahami karakter murid merasa seperti sedang berinteraksi dengan "celeng".

Guru yang positip terus mencari sudut pandang alternatif. Mereka berhenti membuli tak lagi menyebut mereka karakter celeng, dan mulai memanggil mereka dengan perhatian dan penuh cinta. 
Mereka, boleh jadi adalah anak-anak masa depan yang belum mendapat ruang bertumbuh, lahan dan pupuk yang tepat. Walaupun di sisi lain ada yang menduga kondisi seperti ini juga efek dari kebijakan zonasi dimana murid tak lagi diseleksi. 

Mari beri nama baru: C.E.L.E.N.G.

Cerdas – Anak-anak ini tahu cara survive, meski sering terlambat sarapan atau pulang mengasuh adik.

Efektif – Mereka bisa menyelesaikan tugas lima menit sebelum dikumpulkan, kadang dengan akurasi yang mengagumkan. Buka internet tanya google

Logis – Mereka bisa berdebat soal kenapa harus belajar, sambil mempertanyakan kebijakan sekolah yang kadang tidak nyambung dengan pola pikir mereka hari ini.

Empati – Mereka lebih sensitif terhadap suasana. Sering membantu temannya diam-diam. Meskipun terlihat sangat individual, sisi positipnya lebih cenderung tidak mau mencampuri urusan teman

Niat – Niat baik sering ada, hanya kadang tersesat di jalan, teralihkan oleh sinyal dan scrolling.

Gigih – Dilarang main HP, tetap nyolok WiFi tetangga.Tingkat keusilan ini mungkin setara dengan generasi baby boomers mencuri jambu atau mangga nya tetangga

Mereka bukan gangguan. Mereka adalah bukti bahwa sawah ini hidup.Benih yang ada hari ini dah harus dirawat punya karakter yang sesuai jamannya.  Justru ketika sawah sepi dari suara, dari geliat, kita patut curiga: jangan-jangan lahannya sudah mati?

Emha Ainun Nadjib berkata, "Anak-anak bukan kertas kosong. Mereka punya cerita, luka, tawa, dan intuisi. Tugas kita bukan mencoretkan mereka, tapi mendampingi agar mereka bisa menulis dirinya sendiri." 

Maka jangan buru-buru mengusir celeng. Dengarkan, dekati, dan arahkan. Karena bisa jadi merekalah yang akan menemukan cara bertani yang baru.Mereka adalah para celeng emas masa depan yang harus ditemani proses tumbuh kembangnya. 

Tugas "petani"pendidikan_ para guru_ hari  ini nyata-nyata semakin berat. Merawat benih dan menjinakkan hama harus sekaligus dilakukan.

Menanam dengan Pemupukan yang Tepat
CELENG sebagai Metode

Petani wajib tahu tidak semua benih tumbuh dengan cara yang sama. Maka guru pun harus memperlakukan murid secara berbeda, sesuai potensi dan kebutuhannya. Di sinilah konsep pembelajaran mendalam (Deep Learning) menemukan relevansinya.

Pembelajaran mendalam bukan tentang membuat murid hafal semua kompetensi dasar. Tapi tentang membawa mereka pada pemahaman yang bermakna—yang kontekstual, berakar pada pengalaman hidup, dan mengajak berpikir kritis. 
Di sinilah pendekatan C.E.L.E.N.G. dapat dijadikan panduan pedagogis:

Contextual – Ajak siswa melihat keterkaitan pelajaran dengan realitas hidup mereka.

Experiment – Biarkan mereka mencoba, gagal, lalu bangkit lagi.

Literacy – Ajarkan mereka membaca dunia, bukan sekadar teks.

Experience – Libatkan emosi, tubuh, dan intuisi dalam proses belajar.

Numeracy – Tumbuhkan logika dan kemampuan berpikir kuantitatif.

Guidance – Jadilah pembimbing, bukan pemegang palu.

Di tangan guru yang berpola pikir bertumbuh, CELENG bukan gangguan, tapi justru strategi.

Sekolah Bukan Bangunan, Melainkan Ladang Harapan

Sering kita terjebak pada bentuk: gedung megah, fasilitas lengkap, seragam rapi, ranking tinggi. Tapi itu semua belum tentu menandakan pendidikan yang hidup.

Sekolah adalah proses. Ia tumbuh lewat relasi antara guru dan siswa, antara kebijakan dan empati. Di dalamnya ada peluh guru, tangis murid, dan doa orang tua. Ada semangat yang tak bisa diukur dengan angka.

Ki Hajar Dewantara menyebut pendidikan sebagai tuntunan untuk menumbuhkan kodrat. Maka sekolah bukan tempat memaksa, tetapi medan yang merangsang pertumbuhan.

"Orang yang paling sempurna adalah yang tahu siapa dirinya." – Ki Ageng Suryomentaram

 

"Sekolah terbaik adalah yang tidak mengkerangkeng anak-anaknya dalam ketakutan, tapi membebaskannya dalam tanggung jawab." – Emha Ainun Nadjib

Maka jika hari ini kita melihat anak-anak "celeng" berlarian, jangan buru-buru mengusir. Mungkin itu tanda bahwa sawahmu sedang subur.

Dan kalau kamu merasa jadi orang-orangan sawah—jangan khawatir. Selama kamu masih bisa melambaikan tangan, kamu masih bisa membuat burung-burung kebijakan itu berpikir dua kali sebelum hinggap.

Sawah, sekolah, dan celeng—semuanya hidup, kalau kita sendiri masih mau bertumbuh.

Ajibarang, 2 Agustus 2025

Tuliskan Komentar Anda