Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Pada suatu malam di bawah langit yang menggigil oleh angin dari Gunung Merbabu, Pandhita Durna duduk menyepi di serambi padepokan Astina. Di tangannya ada naskah kurikulum baru—tebalnya hampir menyamai kitab Mahabharata, tapi isinya lebih sering diubah daripada dihayati. Sementara dari kejauhan, Bagong datang membawa dua buku: satu berjudul Merdeka Tapi Bingung, satu lagi Kurikulum Kembang Kertas. Bagong meletakkannya di hadapan Pandhita, lalu duduk bersila dengan wajah bingung seperti anak SD disuruh ikut seminar literasi digital.
Pandhita Durna mengelus jenggot. "Iki lakon apa maneh, Gong? Muridku belum hafal naskah yang kemarin, kok sudah diganti skenario anyar?"
Begitulah wajah pendidikan kita hari ini. Kurikulum berubah tak ubahnya status hubungan di media sosial: dinamis, emosional, kadang tanpa kejelasan tujuan. Filosof posmodern Jacques Derrida pernah bilang bahwa makna itu tak pernah selesai, selalu tertunda. Dalam konteks pendidikan kita, makna pembelajaran tampaknya juga tertunda—terkalahkan oleh deadline revisi, rapat-rapat evaluasi, dan proyek percontohan yang lebih mirip sandiwara.
Guru-guru dituntut untuk segera mahir metode baru, siswa disuruh mandiri tanpa dibekali kompas. Orang tua ikut kelabakan, mendadak harus paham format asesmen diagnosis yang bahkan kepala sekolah pun kadang masih membatin, "Iki maksude opo, ya?"
Di ruang lain, Srikandi sedang sibuk menyusun silabus dengan semangat baru: pembelajaran mendalam. Katanya, anak-anak harus tidak sekadar tahu, tapi memahami. Tak hanya menghafal, tapi mampu menafsir. Tapi di mana ruangnya? Kalau waktu guru habis untuk mengisi lembar observasi dan membuat video pembelajaran, lalu kapan ia punya kesempatan mendampingi anak menggali makna hidup?
Paulo Freire pernah menulis bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan. Tapi jika pembelajaran mendalam hanya berarti project based learning yang dikejar deadline, anak-anak hanya menjadi pelaksana, bukan penanya. Mereka jadi buruh proyek sejak usia sekolah—berpikir kreatif hanya sebatas membuat poster kelompok dan presentasi Canva. Sementara pertanyaan tentang jati diri, tanggung jawab, dan keberanian menjadi manusia justru terlupakan.
Di tengah kehebohan pembelajaran mendalam, muncullah wacana wajib belajar coding. Dunia teknologi seakan-akan jadi satu-satunya jalan menuju masa depan. Maka dibelilah laptop-laptop canggih, dibuatlah modul logika pemrograman, dan guru olahraga pun diminta ikut pelatihan coding.
Tentu, coding bukan sesuatu yang buruk. Tetapi kita tidak boleh membiarkan teknologi membawa kita ke tempat yang sebenarnya tidak kita tuju. Ada bahaya laten pendidikan berbasis keterampilan teknis. Orang dewasa mengira sedang mempersiapkan anak-anak menghadapi dunia, padahal sedang menggiring mereka menjadi operator sistem yang tak mereka pahami. Mereka diajari cara membuat algoritma, tapi tidak diajak memahami nilai hidup. Diajak membuat chatbot, tapi lupa bagaimana berbicara dari hati.
Lalu, muncul satu kebijakan yang konon sangat berpihak pada anak: makan bergizi gratis. Semar pun tersenyum. Akhirnya ada yang sadar bahwa anak lapar tidak bisa diajak mikir numerasi. Namun di balik gembira itu, ia masih mendengar suara-suara lirih: laporan yang harus dipenuhi, anggaran yang kurang. Realisasi kegiatan makan bergizi gratis di sekolah masih jauh dari teori gizi untuk memenuhi kebutuhan anak bertumbuh.
Padahal Maslow sudah bilang: kebutuhan fisiologis adalah dasar dari segala proses belajar. Anak yang lapar tidak bisa mendengarkan PPKN. Anak yang tidak sehat tidak mungkin paham pentingnya demokrasi. Sayangnya, kebijakan sering kali lebih sibuk dengan tabel gizi daripada rasa syukur. Lebih sibuk mencatat kalori daripada mendengar tawa anak-anak yang makan bersama.
Gatotkaca, yang kini menjadi kepala sekolah, berdiri di depan kelas. Di baliknya ada poster besar bertuliskan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Semua murid memandanginya. Mereka sudah hafal: rajin membaca, berani mencoba, pantang menyerah, jujur, peduli lingkungan, menghargai perbedaan, dan berani bermimpi. Tapi seperti kata Franz Magnis-Suseno, karakter tidak bisa dibentuk lewat spanduk dan slogan. Karakter harus ditumbuhkan lewat pengalaman hidup, keteladanan guru, dan ruang untuk berbuat salah tanpa dimarahi.
Di sinilah pendidikan kita kehilangan ruh. Kita lebih sibuk mencetak anak-anak hebat versi brosur, ketimbang memeluk keunikan mereka yang mungkin tak sejalan dengan indikator penilaian.
Sampai pada titik ini, Semar pun turun ke panggung, membawa sabdanya yang sering diabaikan. Katanya, “Kowe ngajari bocah ngoding, tapi ra ngajari tresna marang sesama. Kowe ngajari project, tapi ra ngajari jujur. Kowe ngajari numerasi, tapi ra ngajari empati. Iki pendidikan opo pelatihan budak digital?”
Yuval Noah Harari pun pernah mengingatkan, bahwa di abad ke-21 ini, keterampilan terpenting bukanlah coding atau berbicara Inggris, melainkan empati, resiliensi, dan kemampuan beradaptasi. Dan ironisnya, itu semua justru tak pernah diuji dalam asesmen nasional.
Lakon ini belum selesai. Panggung masih terang. Tapi bila kita terus membiarkan pendidikan dikelola seperti pentas yang kehilangan sutradara—maka generasi mendatang akan tumbuh sebagai pemain yang mahir dialog, tapi kosong makna. Pintar, tapi tak tahu arah. Terampil, tapi tak punya hati.
Maka sebelum layar diturunkan, mari kita dengarkan kembali suara para leluhur yang nyaris lenyap di tengah keributan reformasi pendidikan:
"Pendidikan bukan untuk mencetak robot yang tahu prosedur, tapi untuk melahirkan manusia yang tahu arah pulang."Ki Hajar Dewantara, sang bapak pendidikan kita, pernah menulis dengan beningnya hati:
"Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu."Tapi kini, alih-alih menuntun, kita malah sering menyeret anak-anak menuju ambisi yang kita sendiri belum tentu sanggup jalani. Kita bentuk mereka jadi “hebat” menurut ukuran orang dewasa yang lupa bagaimana rasanya menjadi anak-anak.
Sementara itu, dari lereng Imogiri yang sunyi, suara Ki Ageng Suryomentaram masih menggema dalam ketenangan batin:
"Ngerti kahanan iku luwih utama tinimbang mung pinter."
(Memahami keadaan lebih utama daripada sekadar pintar.)
Tapi kita justru sebaliknya: bangga pada nilai rapor, tertawa atas ranking, tapi abai pada kegelisahan batin siswa yang makin hari makin teralienasi.
Maka bila dunia pendidikan hari ini ibarat lakon pewayangan, mungkin saatnya kita menulis ulang naskahnya—dengan aksara welas asih, bukan angka dan tabel. Dengan rasa, bukan sekadar regulasi.
Dan semoga... suatu hari nanti, ketika anak-anak kita berdiri di panggung hidup mereka sendiri, mereka tak hanya hafal dialog, tapi benar-benar tahu mengapa mereka harus berkata, berbuat, dan bermakna.
Ajibarang, 31 Juli 2025


Bagus Bpak. biarlah Gatotkaca tetap miliki Otot kawat balung wesi.