Koding Dan Puding Cinta Yang Tak Saling Menunggu

Koding dan Puding: Cinta yang Tak Saling Menunggu

Koding dan Puding: Cinta yang Tak Saling Menunggu

Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

Di panggung Republik yang kadang lebih suka drama ketimbang data, pendidikan dipaksa berlari mengejar dunia digital — tapi pakai sepatu yang belum jadi. Seringkali kita merasa sedang melaju, padahal baru saja mulai melangkah. Di tengah euforia revolusi industri 4.0, satu kata baru menggantikan deretan nama pahlawan nasional di percakapan siswa sekolah: koding. Kata ajaib dari dunia futuristik, yang bisa menyulap tombol menjadi dunia, layar menjadi semesta, dan anak-anak menjadi “programmer masa depan”.

Namun sayangnya, sebelum mereka sempat memahami apa arti if dan else, lonceng kantin berdentang nyaring. Anak-anak itu pun berbondong-bondong menyambut... puding.

Satu dunia bicara algoritma, satunya lagi cuma ingin menenangkan perut yang kosong. Dua hal yang tampak berseberangan, padahal seharusnya saling menopang. Tapi di negeri ini, cinta antara koding dan puding tak sempat saling menunggu.

Koding: Cinta yang Belum Dipinang Guru

Koding, saudara-saudara, adalah janji manis dari abad ini — janji bahwa anak-anak Indonesia akan siap menjadi warga digital dunia. Namun janji itu akan tetap jadi utopia jika tak ada kesungguhan untuk mempertemukan aktor pendidik dengan substansi yang harus mereka ajarkan.

Banyak guru — terutama guru matematika, TIK, dan bahkan guru agama — kini tiba-tiba disodori Python, HTML, Scratch, atau block programming tanpa sesi ta’aruf terlebih dulu. Mereka belum sempat mengenali logika algoritma, sudah disuruh menulis looping. Belum selesai paham tentang variable, sudah harus ikut pelatihan Internet of Things. Seakan semua bisa dipelajari dengan cepat, padahal mempelajari koding bukan sekadar menghafal rumus, tapi mengasah cara berpikir komputasional.

Bayangkan menyuruh seorang dalang memainkan gamelan listrik, tapi kabel colokannya belum dicolokkan ke listrik. Itulah yang dirasakan banyak guru. Antusiasme ada, semangat tak kurang — tapi arah dan alat tidak cukup.

Pendidikan digital butuh roadmap. Dan roadmap itu harus dimulai dari kesiapan guru, bukan sekadar target output siswa. Tak cukup membuat modul dan aplikasi; perlu ekosistem pembelajaran yang berpihak pada kenyataan di ruang kelas.

Infrastruktur: Komputer yang Lebih Banyak Debunya

Mari kita jujur. Di banyak sekolah, terutama di pinggiran kota dan pelosok desa, komputer masih dianggap “barang mewah yang disucikan”. Ditempatkan rapi di ruang laboratorium yang lebih sering dikunci daripada dipakai. Debu menempel di layar, mouse hilang entah ke mana, CPU hanya menyala saat kedatangan tim supervisi.

Ketika kelas koding digelar, satu laptop harus dibagi untuk lima pasang mata. Anak-anak antre memegang keyboard, seperti sedang rebutan mic karaoke. Bahkan jaringan internet pun tak kalah menyedihkan: sinyal naik-turun seperti iman manusia, dan kadang harus bersabar menunggu loading halaman seperti menunggu hujan di musim kemarau.

Bagaimana kita bisa bicara big data dan machine learning, kalau untuk mengetik satu baris kode saja harus menunggu giliran?

Infrastruktur pendidikan digital tidak bisa dibiarkan sebagai proyek simbolik. Ia harus tumbuh jadi sistem yang hidup dan dirawat. Sekolah tidak butuh sekadar hibah alat, tapi sistem pemeliharaan, pendampingan, dan regenerasi perangkat.

Puding dan Janji Bergizi yang Tertunda

Sementara itu, di sisi yang lebih membumi: perut anak-anak tetap minta diisi.

Program makan bergizi gratis yang digagas pemerintah adalah ide revolusioner. Sebab tidak ada pendidikan yang berhasil jika murid-murid datang ke kelas dengan perut kosong. Tapi antara ide dan implementasi, seringkali ada jurang yang curam. Di kantin-kantin sekolah, anak-anak masih lebih akrab dengan puding instan — bukan dari susu segar, bukan dari buah lokal, tapi dari bubuk sachet berwarna cerah yang manisnya kadang lebih kuat dari rasa kejujuran di musim kampanye.

Konon katanya, puding ini masuk dalam kategori "menu gizi". Tapi mari kita bedah faktanya: sebagian besar isinya adalah gula rafinasi, pewarna buatan, dan sedikit sekali nilai protein atau serat. Ini bukan makanan sehat, melainkan jebakan nostalgia yang bisa jadi bibit penyakit di masa depan.

Ketika gizi menjadi laporan angka, dan bukan upaya menyehatkan anak, maka yang kita bangun bukan generasi emas... tapi generasi manis — secara literal.

Pemerintah, Dengarlah dengan Telinga yang Bernyawa

Jika pemerintah benar-benar ingin makan bergizi gratis menjadi jalan menuju kecerdasan nasional, maka harus ada perubahan cara pandang. Jangan biarkan menu gizi menjadi proyek asal-asalan yang penting murah dan kenyang. Jadikan ia bagian dari kurikulum kehidupan.

Puding pun bisa naik kelas — bukan sekadar camilan murah, tapi platform edukatif. Bayangkan puding dari agar-agar rumput laut hasil panen nelayan lokal. Atau susu kedelai hasil olahan petani setempat. Bayangkan setiap kemasan makanan ditulis asal usul bahannya, kandungan gizinya, bahkan pesan moralnya. Bukankah itu jauh lebih bergizi secara lahir dan batin?

Bila kita serius, maka gizi pun bisa jadi alat pendidikan karakter dan kemandirian pangan.

Koding Tanpa Gizi Adalah Kosong

Jangan harap anak yang lapar bisa berpikir logis. Jangan paksa siswa menyusun sintaks saat otaknya dipenuhi lapar. Ini bukan sekadar soal kasih makan, tapi soal hak dasar untuk berpikir sehat dan hidup layak.

Koding membutuhkan brain fuel. Dan itu bukan sekadar listrik dari colokan, tapi energi dari makanan bergizi. Otak manusia, seperti mesin superkomputer, tidak akan bekerja optimal jika tidak diberi asupan yang tepat.

Di sinilah titik temu antara koding dan puding. Yang satu membentuk masa depan pikiran, yang lain menjaga fondasi tubuhnya. Jika kita ingin membangun SDM unggul, maka jangan hanya bicara skill digital, tapi juga gizi dan daya tahan.

Akhirnya, Ini Bukan Tentang Koding dan Puding

Ini bukan soal memilih antara teknologi atau makanan. Ini soal bagaimana kita memandang pendidikan: sebagai upaya menyeluruh yang menggabungkan ilmu dan cinta, data dan rasa, logika dan empati.

Apakah kita sedang mencetak pemrogram peradaban? Atau hanya pengguna aplikasi yang menunggu petunjuk?

Apakah anak-anak kita akan hidup sehat dan berdaulat? Atau tumbang pelan-pelan di bawah slogan yang hanya manis di pidato?

Mari kita beri mereka ilmu yang bergizi dan makanan yang cerdas. Beri mereka alat berpikir dan alasan untuk bermimpi. Ajak mereka bercakap tentang masa depan, bukan hanya dalam bahasa kode, tapi juga dalam bahasa kasih sayang.

Agar kelak mereka bisa menulis masa depan bangsanya — dengan hati yang kenyang dan kepala yang cemerlang.

 

Purwokerto, 30 Juli 2025

Tuliskan Komentar Anda

Komentar
  1. Sugihduit says:

    keren tulisannya

  2. AMIN HIDAYAT, M.Pd. says:

    Terimakasih p Tris, tidak sekedar latah, kritis diperlukan biar tidak salah arah dan salah kaprah