(Surat Cinta untuk Sesama Kepala Sekolah)
"Setiap kepala sekolah adalah penjaga peradaban kecil bernama sekolah. Di sanalah karakter bangsa disemai, bukan hanya lewat kurikulum, tetapi lewat keteladanan dan cinta."
Saya lupa siapa yang menulis kalimat itu, dan dari buku apa saya membacanya. Tapi pesan itu tertinggal kuat dalam ingatan. Ia seperti bisikan lembut, yang kerap datang ketika tugas kepemimpinan terasa berat, dan dunia tampak terlalu sibuk untuk menyisakan ruang bagi hati yang bekerja dengan tulus.
Saya ingin berbagi sebuah kisah. Sederhana saja, mungkin terlalu sederhana bagi sebagian orang. Tapi saya percaya, justru dalam kesederhanaan seperti itulah, kita bisa menemukan cermin: tentang kepemimpinan yang tidak sekadar soal posisi, tapi tentang relasi—antara manusia dan manusia.
Siang itu, dua orang pendidik duduk berbincang. Satu adalah mantan kepala sekolah. Satunya lagi, wakil kepala sekolah yang masih bertugas di sekolah yang sama. Mereka dulu adalah mitra kerja. Kini, salah satunya sudah melepas jabatannya, digantikan oleh kepala sekolah baru.
Tak ada pidato resmi, tak ada perdebatan visi. Hanya percakapan hangat antara dua insan yang pernah mengemban amanah bersama. Mereka tertawa pelan mengenang masa lalu, saling menguatkan untuk masa depan.
Namun di balik canda itu, ada pelajaran penting: tentang bagaimana seharusnya kita memimpin.
Sang mantan kepala sekolah dengan rendah hati mengakui kekurangannya. “Saya ini sopir tua,” katanya sambil tersenyum kecil. “Kadang nyetirnya ugal-ugalan. Tapi saya hanya ingin semua penumpang sampai dengan selamat. Bukan untuk jadi terkenal.”
Sementara wakil kepala sekolahnya tak menyanjung berlebihan, tak pula membandingkan pemimpin yang dulu dan sekarang. Ia hanya berkata pelan: “Saya ikut alur, Pak. Semua pemimpin punya caranya sendiri. Saya banyak belajar dari Bapak.”
Mereka saling memahami tanpa harus menundukkan atau meninggikan satu sama lain. Inilah yang langka dalam dunia kepemimpinan: kejujuran dan kelapangan hati.
Tulisan ini adalah surat cinta saya untuk pembaca. Cinta yang sesungguhnya sangat rumit saya tulis secara sederhana, maka pasti rasanya beda dengan surat cinta untuk starla : lagu yang asyik didengarkan itu. Untuk Anda—siapa pun Anda yang sedang memimpin sekolah hari ini.
Untuk Anda yang masih terjaga malam-malam memikirkan dana BOS yang belum cair.
Untuk Anda yang tetap datang ke sekolah meski sedang lelah, dihujat, atau tak dipahami.
Untuk Anda yang harus menyelesaikan aduan yang masuk tanpa klarifikasi, menghadapi tuntutan administratif yang kadang menenggelamkan idealisme.
Ini adalah penghormatan bagi Anda yang tetap tersenyum meski rapat belum selesai sampai petang, sementara di rumah anak-anak menanti cerita dari ayah atau ibu mereka.
Seorang kepala sekolah tidak harus menjadi matahari.
Berusahalah menjadi langit yang luas, yang memberi ruang bagi cahaya dan awan, tawa dan tangis, hujan dan warna-warni pelangi.
"Jika suatu hari engkau tak lagi menjabat, dan para guru tetap menyebut namamu dengan senyum, maka engkau telah berhasil menjadi pemimpin. Bukan karena jabatan, tapi karena kebaikan yang kau tinggalkan."
Mari terus belajar memimpin dengan hati.
Mari kita jaga semuanya dengan sabar, dengan telinga yang mau mendengar, dengan tangan yang tak segan menolong.
"Kepemimpinan adalah seni menciptakan ruang bagi orang lain untuk tumbuh dan bersinar, tanpa merasa kita harus menjadi satu-satunya cahaya."
Untuk Anda, kepala sekolah di seluruh negeri—yang tetap waras, tetap sabar, tetap mencintai—terima kasih telah memilih bertahan.
Tetaplah menyalakan lentera, meski jalan kadang sepi dan gelap.
Karena cahaya itu, suatu hari akan dikenang—bukan oleh dunia, tapi oleh jiwa-jiwa kecil yang pernah percaya kepada Anda.
Salam hormat,
dari sesama pejuang pendidikan, yang sering bingung bersikap diantara derasnya arus perubahan.
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Padepokan Jaka Tingkir 24 Juli 2025


Luar biasa,...seandainya semua pemimpin bisa seperti ini, Pasti semua bawahan akan merasa terlindungi,terayomi sehingga tidak akan ada yang merasa jadii korban kebijakan yang kurang jelas.
Tulisan yang menginsipirasi, Kepala sekolah bukan sekedar tugas dan jabatan ?
Keren abiez Bapak. Luar biasa menginspirasi
Terimakasih tulisannya..sangat menginspirasi Semoga bisa sebagai referensi dan pedoman
Sangat menginspirasi
Maturnuwun atas motivasinya.... Suami saya beranggapan salah satu kesalahan saya adalah terlalu berempati sehingga kadang perintah dari atasan tidak segera ditaati bawahan.
MasyaaAllah... terimakasih Bapak atas nasehatnya, meski saya hanya guru biasa...saya bisa merasakan kelembutan, kesederhanaan dan tawadhu seorang mantan pemimpin...semoga akan lahir Ki Hadjar2 yang baru..yang akan membuat pendidikan Indonesia lebih maju dan bermartabat.